Ajarkan Kejujuran Sejak Usia Dini

“Ayo nak berhentilah menangis. Kalau diam, kamu saya belikan boneka. Mau nggak?” rayu Ibu kepada anak perempuannya yang rewel terus. Mendengar tawaran itu, di sela tangisnya, anak usia empat tahun ini pun melirik wajah ibunya. Ia tidak berkata, hanya mengangguk. Ada harapan tersimpan di hati.Ia pun berangsur mengurangi volume tangisnya. Dan kini hanya sesekali sesenggukan yang masih tersisa.

Pemandangan seperti ini sering kita temui dalam keseharian. Janji membelikan permen, mobil-mobilan, baju baru, atau berkunjung ke rumah nenek di luar kota, dengan mudah keluar dari lisan kita.  Yang penting anak tidak rewel. Namun setelah anak benar-benar diam dari tangisnya, bagaimana sikap kita dengan kata-kata yang sudah kita janjikan?

Kebanyakan orang melupakan begitu saja. Mengingkari janji pada anak dianggap hal kecil saja. Tak ada rasa bersalah bila tak memenuhinya. Sebagai orang tua, bagaimana seharusnya yang kita lakukan terhadap anak-anak kita?

Penuhi Janji

Abdullah bin Amir berkata, “Ibu memanggil saya, sementara Rasulullah berada di rumah kami.

“Anakku kemarilah!” panggil ibu. “Saya akan memberi sesuatu kepadamu.

” Rasul bertanya pada ibu saya,” Apakah yang hendak engkau berikan kepadanya?” “Kurma”

Beliau pun bersabda, “Jika engkau tidak memberi sesuatu, maka telah ditulis satu dusta bagimu.”

 

Menilik kisah di atas, ternyata dalam penilaian Rasul, sikap kita tidak memenuhi janji pada anak yang sedang rewel termasuk dusta. Karena itu tidak semestinya kita memandang ringan, apalagi menjadikan kebiasaan; mudah berjanji tetapi juga mudah melupakan. Janji membelikan boneka atau lainnya pada anak-anak, haruslah dipenuhi kalau kita tidak ingin dicatat sebagai pendusta. Persepsi selama ini bahwa janji pada anak adalah hal yang boleh diabaikan, sama sekali tidak benar.

Berjanji berarti memberikan harapan. Hati seorang anak yang masih polos memiliki kepekaan daya rekam yang tinggi, bahkan melebihi orang dewasa. Saat kita menjanjikan sesuatu, mereka akan sangat berharap dan menunggu-nunggu kapan janji itu dipenuhi. Saat janji itu tidak kunjung dipenuhi, sudah barang tentu akan menggoreskan rasa kecewa di hati mereka.

Terkait hal ini, Steven Covey, penulis buku terkenal Seven Habit memberikan gambaran menarik. Saat seseorang berjanji, ia seperti menarik rekening kepercayaan pada orang lain. Misal kepercayaan anak kepada kita bernilai delapan. Saat berjanji akan membelikan boneka, rekening kepercayaan itu kita ambil; katakan tiga. Sehingga kepercayaan itu sekarang berkurang menjadi lima.

Kalau kita sering ingkar janji, rekening itu seperti ditarik terus. Janji ini diingkari, berkurang lagi. Janji itu tidak ditepati berkurang lagi. Lama-lama berangsur-angsur akhirnya rekening itu akan habis. Saat demikian itu anak kita sudah tidak percaya dengan yang kita janjikan.

Persis seperti janji-janji juru kampanye menjelang pemilu yang sering tidak ditepati. Padahal sebelum pemilu sampai berbusa-busa berjanji mau menyejahterakan rakyat dan membersihkan korupsi. Tetapi ternyata hanya di bibir saja. Itulah akibat seseorang yang mudah berjanji tapi tidak menepati. Sebagai orang tua, kalau sudah kehabisan rekening kepercayaan pada anak, nasehat kita tak akan manjur lagi.

Kepercayaan itu hanya akan terawat jika kita menepati janji. Semakin sering kita menepati janji, tabungan rekening kepercayaan mereka bisa semakin bertambah, menjadi sembilan atau sepuluh, dan seterusnya. Saat demikian ini kita menjadi orang terpercaya di depan anak-anak. Sedikit saja kita bicara, mereka akan mempercayai. Ingat al wa’du dainun; janji adalah hutang, kata Rasul. Jadi memang tak ada pilihan lagi setelah berjanji kecuali memenuhinya. Termasuk kepada anak-anak.

Tertanam Kokoh

Tidak hanya pada orang tua, Rasul juga memotivasi jujur ini sejak dini pada anak-anak. Dari Anas, ia berkata; Nabi bersabda: “Wahai anakku, jika engkau mampu menjalani waktu pagi dan sore tanpa berdusta pada seseorang, maka lakukanlah!”

Tentu saja kita akan bisa menanamkan sifat jujur ini tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dibarengi dengan keteladanan. Itulah yang dilakukan Rasul. Beliau senantiasa selaras antara kata dan tindakan. Jangan sampai sikap kita justru mengajarkan ketidakjujuran. Misal saat istirahat siang, ada tamu mengetuk pintu. Karena agak malas menemui lalu kita bilang, “Nak, katakan pada tamu, bapak tidak ada. Sedang keluar kota.” Saat demikian, tindakan dan sikap kita itu akan lebih ditangkap dari pada kata-kata kita yang mengajarkan kejujuran. Bagaimana menanamkan nilai-nilai kejujuran ini, kita bisa mengambil pelajaran pada kisah berikut.

Ibu itu selalu menanamkan dan mencontohkan nilai-nilai kejujuran pada anaknya. Tidak hanya itu, ia juga menyuruh anaknya untuk berjanji selalu jujur dan tidak akan pernah berdusta sebagai perwujudan nilai iman. Sang anak itu pun meresapi pesan ibundanya. Dan janji di depan ibunya untuk selalu jujur itu pun tertancap kokoh di dadanya. Saat ia pamit pergi menempuh perjalanan yang jauh, sekali lagi ibunya menyuruhnya memperbaharui janjinya; tidak akan berdusta.

Sesampai di kota Hamadan, ia dihadang gerombolan penyamun yang merampas semua barang bawaannya.

 

“Apa lagi yang kamu bawa?” tanya seorang penyamun setelah merampas bawaannya.

“Uang empat puluh dinar.”

Gerombolan itu menyangka anak itu hanya omong kosong. Lalu ia meninggalkannya. Penyamun yang lain bertanya sekali lagi.

“Apa yang kamu bawa?”

“Uang empat puluh dinar.”

Mendengar jawabannya, penyamun itu membawa anak ini ke pemimpin gerombolan.

“Apa yang kamu bawa?” tanya pimpinan gerombolan itu lagi.

“Uang empat puluh dinar.” Setelah digeledah ternyata gerombolan itu tidak menemukannya. Mereka menyangka anak itu memang hanya omong kosong.

Saat mereka mau pergi, anak ini berkata. “Uang itu saya simpan di sini,” katanya sambil menunjukkan lipatan di balik bajunya. Pemimpin gerombolan ini pun terheran dengan kejujurannya.

“Apa yang mendorongmu berkata jujur?”

“Ibu menyuruh saya berjanji untuk tidak berdusta. Saya takut mengkhianati janji saya itu.”

Mendengar ucapan anak ini, pemimpin penyamun ini pun sadar. Lalu ia memerintahkan kepada semua anak buahnya mengembalikan barang-barang yang mereka rampas.

“Saya bertobat kepada Allah karena ucapanmu wahai anakku. Kini engkau pemimpin kami dalam pertaubatan kepada Allah” kata pemimpin penyamun.

Tobatnya pemimpin gerombolan ini juga diikuti oleh semua anak buahnya. Anak itu kelak dikenal sebagai ulama besar di zamannya, yang dikenal dengan nama; Syaikh Abdul Qadir Al Jailani.

Hati semua orang tahu, bahkan penjahat sekali pun; jujur itu baik dan dusta itu buruk. Jujur melahirkan kemuliaan dan sebaliknya dusta mengakibatkan kehinaan. Hati anak yang fitrah dan suci sudah semestinya ditanam biji kejujuran dan jangan kotori dengan dusta. Ajari anak berjanji dari hati, berkomitmen dan menepatinya. Selalu ingatkan anak-anak dengan lisan, tapi jangan lupa berikan juga keteladanan. bmh[dot]or[dot]id

baju anak muslim terbaik

Pengusaha

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>